Opat Kalima Pancer, Psikoanalisis Sigmun Freud

Oleh: Faisal Nugraha

Bandung, MNS-Sigmun Freud adalah nama yang tak asing didengungkan oleh para penganut ilmu kejiwaan, apalagi mengenai psikoanalisis, kiranya bapak psikologi kebangsaan Republik Austria ini lahir pada 6 Mei 1865.

(10/07/2021).

Ilmu psikologi mulai diakui dunia sekitar tahun 1879 kala berdirinya laboratorium psikologi di Jerman, psikoanalisis adalah teori yang berusaha menjelaskan hakikat dan perkembangan kepribadian. Dalam psikologi, salah satunya ada pemaknaan konsep tentang kepribadian dari aturan psikoanalisis (Ja`far: 2015).

Cabang ilmu ini dikembangkan oleh Sigmun Freud beserta pengikutnya, sebagai studi fungsi prilaku manusia, psikoanalisis banyak berbicara tentang kepribadian segi struktur, dinamika dan perkembangan. Freud, pada tahun 1923 mengenalkan tiga model struktural yang lain, yakni das Es, das Ich, dan ueber Ich. Bila diterjemahkan dalam inggris berarti: the id, the ego dan super ego. Kendati dinamika kepribadian menurut Freud adalah bagaimana psikis didistribusikan dan dipergunakan Es, das Ich, dan ueber Ich.

Menurut Freud, kehidupan jiwa ini memiliki tiga tingkat kesadaran, yaitu sadar (conscioius), prasadar (preconscious), dan tak sadar (unconscious). Perilaku ditentukan oleh alam bawah sadar yang berisi insting atau naluri ilmiah, kesadaran ibaratkan gunung es. Es berada dipermukaan air dan hanya akan menyisakan ke permukaan dan sebagian berada di bawah permukaan air, hal ini sama dengan kesadaran manusia di mana mental lebih banyak terjadi pada tingkatan tak sadar.

Pernahkah anda memikirkan sesuatu dan berusaha keras untuk mendapatkannya hal itu malah nihil, misalnya mengejar wanita/pria yang anda idamkan, tapi sesuatu yang sama sekali tidak pernah anda bayangkan malah anda dapat dalam kehidupan.

Jelasnya idiom serupa ini bisa dijumpai dalam pemikiran budaya nusantara, misalnya pemikiran tassawuf, papat kalima pancer, saderek opat kalima pancer, atau manunggaling kawula gusti.” sebelum merasa lapar diri kamu yang asli sudah empat puluh kali lipat kenyang.”

 

 

  • Consciousness (sadar) :                      pikiran, presepsi, perasaan,
  • Preconsciousness (pra-sadar) :            semula disadari, tapi tak lagi dicermati
  • Unconsciousness (tak sadar) :           bagian penting jiwa manusia berisi insting, dorongan dan implus.

 

Nyeleneh rasanya ketika kita melakukan sesuatu tanpa wacana dan pertimbangan besar, serba intuitif atau mendadak tentu sangatlah konyol, tapi dengan melatihnya sendiri kamu akan mengalami perubahan mental dan psikologi dalam kehidupan.

Kalaupun ada sesuatu yang anda pikirkan menjadi kenyataan itu adalah personalitas yang berbeda dengan identitas, pasti mumet lagi kepala kalian, sebagian ada yang angguk-angguk kepala per-ketuk sambil bilang: “Hmmm iyah juga.”

Rentetan di atas akan meruju pada pemikiran “diri sejati”, siapa kalian, dari mana asal kalian, dan hidup untuk apa. Pernahkah kalian merasa capek terus kalian melamun, atau saat anda bersin hati anda berbisik “rasanya saya akan flu.”

Namun kita akan bahas itu di lain kesempatan, pertanyaannya siapakah yang membisiki anda flu? apakah ia seorang makhluk, wujud, metafisik, ataukah diri kalian. Sekarang kalian cari apa itu “rasa”, dengan metode ketidaksadaraan (unconsciousness). Selamat jadi manusia yang sedikit lebih bahagia dari orang lain.

author
No Response

Leave a reply "Opat Kalima Pancer, Psikoanalisis Sigmun Freud"