Anggota DPRD yang Jadi Tersangka Bentrokan Berdarah di Perbatasan Indramayu-Majalengka

Oleh: Rakhmat Sugianto

Indramayu, MNS-Jajaran Kepolisian polresta Indarmayu sudah menetapkan tujuh orang sebagai tersangka tragedi berdarah yang menewaskan dua petani tebu di lahan PG Jatitujuh, Blok Makam Bujang, Desa Sukamulya, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Kapolres Indramayu AKBP M Lukman Syarif memamparkan bahwa dari ketujuh tersangka itu, salah satunya adalah anggota DPRD Kabupaten Indramayu, Taryadi (43).

Dari ketujuh orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka, mereka semuanya adalah dari anggota Forum Komunikasi Masyarakat Indramayu Selatan (F-Kamis) dan posisi Taryadi tercatat sebagai ketua di Forum Komunikasi Indarmayu Selatan (F-Kamis).

“Hasil dari penetapan tersangka tersebut setelah kita memeriksa sebanyak 26 saksi, maka kami memutuska. 7 orang yang menjadi tersangka, termasuk saudara Taryadi” ujarnya Lukman Syarif dalam konferensi pers di Mapolres Indramayu (8/10/2021).

Sosok anggota DPRD Indramayu yang Taryadi sudah ditetapkan sebagai tersangka lantaran berperan penggerak dan menghasut kelompoknya untuk melakukan perlawanan terhadap aparat. Pada hari adanya insiden kejadian bentrokkan tersebut sejumlah anggota F-Kamis menyerang secara brutal sejumlah petani di ladang tebu.

Dalam melakukan aksinya, mereka membawa senjata tajam seperti golok dan senjata tajam lainnya. “Saudara Taryadi diduga berperan menggerakkan, menghasut kelompoknya untuk melakukan perlawanan. Mereka juga menghasut untuk melawan aparat." Ungkapnya AKBP M Lukman Syarif, saat dikonfirmasi oleh awak media setelah acara jumpa pers. (8/10/2021).

Dihimpun dari berbagai informasi masyarakat dan beberapa nara sumber ternyata saudara Taryadi adalah merupakan mantan Kades Amis Kecamatan Cikedung, Indramayu, dan terpilih menjadi anggota DPRD Indramayu sebagai kader Partai Demokrat.

Pada 2015 yang lalu, saat masih menjadi Kades Amis kecamatan Cikedung, Taryadi sempat memimpin massa F-Kamis berunjuk rasa di pendopo Pemerintah kabupaten Indramayu. AKBP M.Lukman Syarif menjelaskan perihal kronologi  aksi penyerangan kelompok Taryadi dilatarbelakangi oleh upaya F-Kamis mempertahankan lahan tebu tersebut.

Baca Juga :  Program Petani Berjaya di Kabupaten Tanggamus, Petani Dapatkan Pupuk Dengan Jumlah Cukup

Taryadi bersama kelompoknya menolak kawasan hutan jadi ladang tebu, Dengan dalih mengubah hutan jadi ladang tebu, sama hal nya dengan menghilangkan mata pencarian warga setempat dari hasil hutan.

Pada saat itu Taryadi juga menyebutkan bahwa alih fungsi hutan jadi ladang tebu dianggap sudah merusak lingkungan, utamanya mengakibatkan banjir, polusi hingga penurunan kualitas air tanah.

Pada tanggal 20 September 2021, F-Kamis pimpinannya adalah Taryadi dab Taryadi pun sempat menyurati Bupati Indramayu. Isi dari surat tersebut Taryadi menyebutkan bahwa hak guna usaha (HGU) PT PG Rajawali II atau PG Jatitujuh sudah melanggar sejumlah aturan. Pada intinya, HGU yang dipegang PG Jatitujuh berstatus hutan negara.

Selain sebagai mantan kades dan demonstran penentang ladang tebu, Taryadi juga ternyata sempat mendaftar jadi calon bupati Indramayu pada Pilkada Indramayu 2020 yang lalu. Sementara dari General Manager PG Jatitujuh Majalengka Aziz Romdhon Bachtiar menjelaskan bahwa perusahaan yang dipimpinnya telah mengelola sekira 12.000 hektare lahan HGU.

"Selama ini kami dari pihak PG Jatitujuh sudah mengelola sekitar kurang lebih 12.000. ha lahan HGU." Pungkasnya Aziz Romdhon Bachtiar. (8/10/2021).

Oknum anggota DPRD tersebut sudah diamankan di mapolresta Indramayu dalam. Penyisisiran para pelaku penyerangan di perbatasan indramayu dan majalengka. Pihak dari mapolres indramayu,memanggil atau meminta bantuan dari Detasemen Brimob Mapolres Cirebon.

Tags:
No Response

Leave a reply "Anggota DPRD yang Jadi Tersangka Bentrokan Berdarah di Perbatasan Indramayu-Majalengka"