Wartawan Malas Membaca dan Menulis Pantaskah Jadi Wartawan?

Medan,Nuansasinar.com,-Dalam beberapa pelatihan, sering menguji beberapa orang dengan tugas-tugas berita yang mereka kerjakan sendiri. Ada yang mengaku sebagai guru namun beritanya seperti menulis artikel.

Sungguh miris sekali! Bahkan, ada yang mengaku sudah mengikuti Uji Kompetensi Utama (UKW), tapi menulis berita masih tak tahu cara menuliskan tanda petik dan koma. Sangat disayangkan sekali hal ini terjadi.

Demikian disampaikan oleh Martha Zhahira El Kutuby, ketika dihubungi LIDIK.ID Kamis (1O/6/2O21) malam, untuk meminta pandangan dan pendapatnya terkait masih banyak wartawan yang malas membaca sehingga menulis beritapun menjadi kesulitan.

Martha mengatakan, seorang wartawan yang bagus, keren, berkualitas, dan diperhitungkan oleh dunia jurnalistik adalah wartawan yang rajin membaca.

“Tidak ada wartawan yang malas membaca. Bahkan, jika mereka seorang redaktur harus membaca banyak sumber dan berita. Sebab, tugas redaktur ‘kan mengedit dan menyunting berita, bagaimana bisa mereka menyunting dan mengedit kalau tidak membaca,” ujarnya tanpa bermaksud menggurui.

Ia pun lantas mencoba memberi contoh kalimat. “Bu, materi kemarin sudah dishare apa belum, ya?”
“Bu, di mana lokasi acaranya?”
“Bu, waktu mulainya kapan, ya?”

Mertha bertanya, pernahkah kita menemukan tulisan pesan singkat di media sosial seperti contoh diatas? Tentu pernah, dong! Terutama di dalam Whatsapp Group. Di sana sering yang bertanya seperti di atas.

Ia sendiri menemukan banyak di grup-grup yang isinya wartawan semua. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa diri mereka sendiri wartawan senior sehingga mereka sudah mencap dirinya orang yang sudah mahir dan selalu rajin membaca.

Ada juga yang mengatakan bahwa rata-rata mereka sibuk sehingga tidak menyempatkan diri untuk membaca. Sayang sekali!

“Mengaku wartawan tetapi malas membaca. Bagaimana caranya menulis kalau tidak membaca? Ada yang bisa menjawabnya?,” tanya Martha yang aktif penulis buku, pemilik media dan instruktur pelatihan Jurnalistik itu.

Lagi lagi dikatakan Martha, kegiatan membaca itu sangat penting sekali walaupun itu hal yang sepele. Mengapa begitu? Ketika kita membaca, semua orang akan tunduk ke kita sebab kita akan dikatakan sebagai orang yang teliti dan berkompetensi.

Kita juga akan memiliki ilmu yang banyak dengan membaca. Bahkan, kita juga akan mendapatkan ilmu menulis. Terutama penggunaan tanda baca dan penulisan kalimat.

“Ketika saya mengajar seputar penulisan, saya selalu meminta mereka untuk membaca. Minimal membaca grup dengan teliti agar tidak lagi bertanya jam dan kapan akan dimulai kegiatan yang ada di grup tersebut, Bahkan, tugas-tugas mereka saya minta untuk dibaca ulang sehingga bisa mereka koreksi sendiri. Beberapa wartawan mengikuti, hasilnya bagus,” pungkasnya.

Nah, bagaimana pentingnya membaca itu? Sangat penting! Sebab, lanjut Martha, dengan membaca anda akan dipandang berkualitas dan mempunyai efek yang luar biasa di mata orang dan wartawan lainnya.

Bahkan, kita pun akan diminta untuk share ilmu, dan lain sebagainya. Kualitas kita akan terlihat ketika kita rajin membaca dan membagikan hasil bacaan kepada banyak orang, sehingga mereka akan tertarik dan merespon kita dengan hal positif.

“Jadi, jangan malas membaca jika anda wartawan. Bacalah dengan seksama apa pun jenis tulisan dan setiap kejadian,” pesan Martha Zhahira El Kutuby yang berdarah Minang itu.

Sumber: LIDIK.ID
Medan, 10 Juni 2021
(Red)

author
No Response

Leave a reply "Wartawan Malas Membaca dan Menulis Pantaskah Jadi Wartawan?"