Pemda Sumedang Tak Boleh Mengigau, Pelukis Pensil Realis Tidak dapat Perhatian

Oleh: Faisal Nugraha

Sumedang, MNS-Melukis karya realis dengan pensil bukanlah hal yang mudah, terkadang masyarakat menilainya bahwa itu hanyalah editan foto, namun seniman yang idealis sangatlah taklid pada pemalsuan karya-karyanya.

(18/04/2021).

Ranggadika pemuda usia 20 tahun yang kerap disapa Uung ini mengalami hal pahit semasa hidupnya, kakinya tertimpa meja kala ia duduk di bangkus SMA, hingga saat ini ia tidak bisa berjalan kaki seperti pemuda umumnya.

Bagi Uung definisi realis sangatlah sederhana, semacam memindahkan objek pada kertas atau kanvas. Dengan Teknik Grid ia mengkontruksikan pola sketsa, lalu mulai membuat mata, karena mata menentukan karakter wajah seseorang. Lanjut membuat telinga lalu ia pungkas dengan ornamen lain semisal badan.

Bukan sekedar kunyah di batu, semangatnya selalu membakar jiwa, kertas dan pensil tak pernah luput melukiskan senja dalam pikirannya. Uung melahirkan puluhan karya yang diajukan kompetisi, bahkan salah satunya pernah dicanangkan pada SEA Games tahun 2018.

Zaman mutakhir yang berdampingan dengan daring sangatlah sulit bagi seniman mempertahankan idealismenya, pasalnya setiap makhluk hidup harus memenuhi kebutuhan pokok, mengingat bahwa kebanyakan kesadaran manusia akan value seni masih menganggap remeh, Uung harus menjual karyanya yang berkisar 500/700 ribu rupiah. Itupun bila orderan mulus, apabila tidak ia harus mengunyah kepedihan.

Uung dari kecil tinggal di Sirah Cai, desa Cisempur, kecamatan Jatinangor, Sumedang. Naasnya pemerintah setempat sama sekali tidak mengetahui keberadaan Uung yang membawa nama desa menjulang, bahkan Uung dicanangkan ikut serta lomba SEA Games 2015. Lagi-lagi pemerintah dinilai mengigau, berkata selalu indah padahal ia sedang tidur.

Pemda Sumedang saatnya harus bangun dan meninjau seniman desa Cisempur, manusia berprestasi yang dikenal di luar selama tahunan tak secuilpun menikmati kekayaan negara ini, pemerintah setetespun tak memberikan kontribusi. Padahal dalam UUD 1945 kekayaan negara sepenuhnya dikelola pemerintah untuk kedaulatan rakyat, apalagi hal ini disinggung dalam UU No. 5 tahun 2017 poin 44g tentang pemajuan kebudayaan. Dana Intensif Daerah 2020/2021 seolah bermain petak umpet tak ada transparansi guna pemulihan ekonomi nasional.

author
No Response

Leave a reply "Pemda Sumedang Tak Boleh Mengigau, Pelukis Pensil Realis Tidak dapat Perhatian"