Plan Indonesia dan HAKLI NTT Sambangi ODGJ Serta Disabilitas

RUTENG,Nuansasinar.com,-Pada kesempatan survei Open Defecation Free (ODF) Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Desa Tengku Lese, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai, Sabtu 29 Mei 2020, Tim Yayasan Plan Internasional (Plan Indonesia) bersama Pengurus Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sambangi kelompok disabilitas atau orang-orang berkebutuhan khusus di Desa tersebut.

Rombongan Plan Indonesia menyambangi Stefani Karisa Endo, balita penyandang disabilitas di dusun Bobong Desa Tengku Lese. Selain berkebutuhan khusus balita berusia 5 tahun itu juga seorang Yatim. Sejak ibunya meninggal, Stefani diasuh oleh sang nenek, mama Maria Lanut.

Saat Tim Plan Indonesia menemui Stefani, Ia terpantau sedang dalam pangkuan sang neneknya. Tubuh mungil bocah malang itu tampak sangat tidak berdaya. Mama Maria Lanut, sang nenek, mengisahkan bahwa cucu kesayangannya itu menderita cacat ganda sejak lahir.

"Dia mengalami lumpuh dan tidak bisa berbicara sejak lahir," ungkap mama Maria Laut, Ia menjelaskan kondisi fisik Stefani.

Meski sudah ada bantuan sebagai bentuk dukungan kepada Stefani namun tetap saja semua itu tidak cukup untuk membuatnya ceria dan semangat seperti anak-anak pada umumnya.

Usai menyambangi balita berusia 5 tahun tersebut, tim Plan Indonesia dipandu oleh para petugas pendamping lokal dan unsur pemerintah Desa bergeser menuju rumah mama Edista Lamut (45), yang merupakan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) asal
dusun Bobong.

Kedatangan Tim Plan Indonesia disambut dengan canda datat mama Edista Lamut, "Kalian siapa? Mana surat? Saya ini kepala Desa Tengku Lese. Kalau masuk di wilayah ini harus bawa surat," ungkap polos mama Eldista. Lelah selama perjalanan siang itu seketika sirna berganti senyum sumringah dan gelak tawa.

Setelah dibujuk sekian lama oleh beberapa warga setempat rombongan Plan Indonesia akhirnya berhasil mendekati mama Edista. Ketika Ia coba diajak untuk mengobrol oleh Tim Plan Indonesia, Ia memberikan respon datar dan tawa tanpa sedikitpun ekspresi bahagia terukir di wajahnya. Rasa lucu bercampur haru terpaut dibawa teriknya matahari siang itu.

Meskipun mama Edista memiliki dua orang anak, entah kenapa tidak seorangpun yang serius menangani deritanya itu. Beberapa warga menjelaskan kondisinya yang hanya tinggal sendirian dalam satu gubuk kecil di gerbang masuk kampung adat Gendang Bobong.

Kepala UPTD Puskesmas Nanu Wilibrodus Antus, menjelaskan sejauh ini pihak medis yang terdiri dari tim pendamping lokal dan Kader kesehatan Desa selalu memberikan pelayanan obat-obatan dan vitamin secara intensif untuk mama Edista.

"Proses penanganan sering Kami berikan. Mulai dari proses mengidentifikasi gejala dan penyebabnya serta upaya penanganan dengan memberikan obat-obatan dan vitamin. Sebelumnya Kami sudah mengirim data ODGJ ke Dinas Sosial Kabupaten Manggarai tapi sampai sekarang belum ada tanggapan. Kita memaklumi keterlibatan respon dari Dinkes mungkin karena situasi pandemi Covid-19 ini," jelas Kapus Wilibrodus.

Wilibrodus menegaskan terkait penanganan para ODGJ di Desa Tengku Lese, Dinas Kesehatan kabupaten Manggarai melalui Puskesmas Nanu telah melakukan tindakan penanganan.

"Semua ODGJ sudah tertangani dengan pemberian obat dan kunjungan rumah," jelasnya.

Selanjutnya, pada kesempatan yang sama tim Plan Indonesia juga menemui mama Martina Nanut (61), salah satu penyandang disabilitas di RT 02 Dusun Bobong Desa Tengku Lese.

Berbeda dari disabilitas lainnya, meskipun memiliki keterbatasan fisik namun Matina giat melakukan aktivitas menganyam tikar dan keranjang untuk dijual kepada warga sekitar.

"Setiap hari mama Martina habiskan waktu untuk menganyam tikar dan menganyam keranjang dari daun lontar. Dijual disekitar kampung," jelas anak perempuannya yang enggan menyebut nama.

Sementara itu, verifikator ODF STBM Plan Indonesia sekaligus Ketua Umum Pengurus HAKLI Provinsi NTT, Jhon Takesan, S.KM, M.Si berharap agar semua ODGJ di NTT khususnya di Kabupaten Manggarai harus didata. Menurut, ODGJ harus mendapatkan perlakukan istimewa untuk membantu proses pemulihan.

Harapan Ketua HAKLI Provinsi NTT itu juga sekaligus menegaskan amanat Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat, SH., M.Si untuk dilakukan pendataan menyeluruh para ODGJ di NTT.

"Saya juga menyampaikan amanat Bapak Gubernur NTT untuk melakukan pendataan terhadap semua ODGJ. Kalau datanya sudah ada baru kita akan tangani secara keseluruhan. Gubernur selalu bilang banyak rumah sakit jiwa di NTT ini yang masih kosong. Kenapa tidak kita berdayakan untuk menampung para ODGJ ini," tutupnya.

(Hendrikus Hatu)

author
No Response

Leave a reply "Plan Indonesia dan HAKLI NTT Sambangi ODGJ Serta Disabilitas"