PILKADES: Serangan Fajar Gerakan Moral Versus Gerakan Hantu

banner 160x600
banner 468x60

KARAWANG. Nuansasinar.com,-Kabupaten Karawang Besok menyelenggarakan PIlkades di 177 desa, adu gengsi status sosial menjadi Kades menjadi fenomena biasa. Berdemokrasi langsung diibaratkan pestanya rakyat, hajatan politik rakyat dan eforia kegembiraan dalam memilih pemimpinnya.

Sebagian besar masyarakat desa mulai membicarakan isu "serangan fajar", yang selalu menjadi pembicaraan luar biasa disetiap ada kesempatan. Serangan fajar dimaknai masyarakat desa sebagai cara calon kades melalui timsesnya melobi masyarakat di detik-detik terakhir hari pemilihan Kades.

Serangan fajar ini banyak modelnya, ada pemberian uang langsung, iming-iming materi, perjanjian tertulis antara pemilih dan calon kades, pemantauan ceklist pendukung terdaftar, bahkan sekarang lebih canggih dengan "list" nomor handphone dan penggunaan media sosial (dengan melaporkan "realtime" pasca mencoblos).

Secara Konseptual, dalam mahzab machialisme, hal ini sah untuk dilakukan karena apapun harus dilakukan untuk mencapai kekuasaan. Artinya sebagai salah satu strategi pemenangan calon Kades, serangan fajar ini dapat menjadi pilihan utama atau pilihan terakhir untuk dilakukan oleh calon kades yang memiliki kekuatan uang atau materi tanpa melihat dampak akhir setelah calon tersebut menjadi pemenang pilkades.

Secara moralitas, dalam serangan fajar terjadi negosiasi jual beli. Hal ini merendahkan martabat dan harga diri si pemilih dalam posisi status sosial yang rendah dan melihat dampak lanjutan ketika si calon kades menjadi pemenang. Dampak lanjutan bagi masyarakat desa terkait adanya korupsi dana desa (banyak kasusnya), rendahnya pelayanan, pembangunan desa dan lain sebagainya. Namun, moralitas ini biasanya tertutup oleh budaya pragmatis masyarakat desa saat ini.

Secara regulasi, penyelenggaraan pilkades berbeda dengan Pilkada, namun beberapa kajian hukum dapat mengkategorikannya sebagai tindakan suap dan beberapa daerah sudah mulai memasukannya menjadi pelanggaran pilkades. Untuk saat ini biasanya oleh Panitia Pemilihan hanya dibuat kesepakatan tertulis seluruh calon kades dalam bentuk deklarasi Pilkades yang bersih, bermartabat dan damai tanpa uang.

Proses terberatnya adalah pengawasan dan monitoring yang dilakukan panitia pemilihan, karena serangan fajar biasanya bergerak diam-diam seperti hantu.

sumber : berbagai sumber dan interview
Penulis,
Dadan Kurniansyah. S.IP.M.Si
Wadek 1 FISIP UNSIKA
Karawang, 20 Maret 2021

(Red)

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a reply "PILKADES: Serangan Fajar Gerakan Moral Versus Gerakan Hantu"