Zionisme, Pluralisme, Darsoisme, Menukik Pemikiran Gusdur pada Konflik Timur Tengah

Bandung, MNS-Konflik Timur Tengah yang satu ini selalu menjadi sorotan dunia, pasalnya jalur Gaza selalu hura-hara digempur saling timbal antara Palestina dan Israel. Kendati tak sedikit para tokoh intelektual dan ilmuan dunia yang mengkritisi begitu dialektis pada kedua agama samawi itu.

(24/05/2021).

Artikel ini sama sekali tak bermaksud narsis dan sok tau, apalagi artikel ini ditulis oleh seorang entah berantah yang sebenarnya bodoh dan tak tau apa-apa, jauh dari metode deskriptif-analisis apalagi menggunakan pendekatan sejarah psiko-intelektual.

Menilai bangsa zionisme di eropa kita bisa menyebut mereka “kejam”. Mirip dengan epos Mahabrata, Sengkuni berbuat bengis pada rakyat karena berawal dari penderitaannya. Kemajuan yang diperoleh Yahudi saat ini, tidaklah didapat dengan mudah. Berbagai macam kepedihan mereka rasakan. Mulai dari pengucilan selama berabad-abad di Eropa, sampai pembunuhan massal yang mereka sempat alami, apalagi bila mengingat peristiwa Holocaust.

Henry Cattan dalam tulisannya yang berjudul The Palestinian Problem: A Palestinian Point of View, menuturkan “bahwa perdamaian haruslah dijaga dengan keadilan.” Perdamaian yang telah tercipta, jika tidak diimbangi dengan penegakkan keadilan yang merata, hanyalah omong kosong. Namun, keadilan juga perlu recognition atas pemenuhan hak-hak bangsa Palestina, terutama pengakuan eksistensi tinggal atau menempati di tanah yang sejak lama telah menjadi tempat berpijaknya.

Gus Dur, menyebutkan kawasan Timur Tengah merupakan padang peperangan dan tempat perebutan dominasi bagi para negara besar. Hal ini dapat dilacak dari politik dagang sapi yang dilakukan para pemenang-pemenang Perang Dunia I dan II. Terkait posisi Israel-Palestina, wacana mewujudkan satu negara berdaulat Israel yang berdiri di lahan Palestina, telah menghangat pasca PD I.

Inggris menjanjikan tanah Palestina bagi orang Yahudi, dengan imbalan para miliarder dan legiun perang Yahudi membantunya dalam perang antar negara tersebut. Pengadaan negara Israel, semakin memfosil dengan Perjanjian Sykes-Picot (1916) dan Deklarasi Balfour (1917). Medan pertarungan inilah yang semakin memanaskan regional Timur Tengah itu sendiri.

Kelompok Israel garis keras. Kelompok inilah yang melegalkan penghilangan hak hidup warga Arab dengan cara apapun. Gus Dur begitu kooperatif terhadap Israel. Hal ini merupakan satu terobosan baru bagi terciptanya perdamaian hakiki di Timur Tengah. Kendati terkesan melabrak adat, karena dunia Islam terlanjur menstigmatisasi Israel sebagai penjajah tanah Palestina.

Gus Dur dipandang cukup solutif, tetapi juga berpotensi menyulut protes keras di dunia Islam, khususnya di tanah air. Bagaimanapun, sampai sekarang, Israel tetap dianggap sebagai musuh Islam, karena nyata, mereka telah melakukan tindakan represif terhadap bangsa Palestina.

Tindakan militeristik yang selama ini diusung oleh Palestina, demikian Gus Dur, menurutnya merupakan “umpan balik” yang sia-sia dalam menghalau hegemoni Israel. Maka dari itu, sesegera mungkin haruslah dihentikan, dan diafirmasi melalui konsolidasi kultural.

Kiranya, Gus Dur terinspirasi jalan pemikiran Mahatma Gandhi, idolanya dalam memandang penyelesaian konflik tersebut. Gandhi merupakan seorang negarawan yang giat mengkampanyekan gerakan Ahimsa (anti-kekerasan). Bagi Gandhi, menghadapi problem, hendaklah menegasikan unsur-unsur kekerasan. Ketika India dijajah oleh Inggris, Gandhi menggunakan cara tersebut, yakni dengan berlaku kooperatif.

Hal tersebut, sangat setara dalam jalan politik Gus Dur, yakni dengan menggandeng Israel dalam prosesi rekonsiliasi etalase sosial kedua negara yang mengalami kerusakan. Modal kekayaan-utamanya minyak-dapat menjadi semacam “daya tawar” yang dapat mempengaruhi kebijakan para negara adidaya terkait dengan pembangunan negara Palestina yang berdaulat.

Beberapa negara besar dunia, seperti AS, menggantungkan pasokan minyaknya, dari Timur Tengah. Kekayaan alam yang umumnya dimiliki oleh sebagian besar negara di Timur Tengah tersebut, dapat dijadikan semacam alat gertak untuk negara-negara besar guna memperjuangkan kelengkapan perdamaian Palestina-Israel. Kelengkapan tersebut bukan hanya berisikan sekedar sponsor atau dukungan retorika disertai harapan semata. Tetapi juga pengupayaan rekonstruksi sendi-sendi pembangunan Palestina.

Gus Dur merupakan satu dari sekian banyak intelektual yang memiliki perhatian mendalam terhadap konflik tersebut. Namun demikian, kendati berasal dari latar belakang muslim, Gus Dur tidak serta merta mendukung semua metode perjuangan Palestina guna menghentikan aksi despotik Israel. Namun, ia juga tidak lantas setuju dengan kebijakan sepihak Israel yang berbuntut pada pendisposisian bangsa Palestina dari tanah mereka. Gus Dur memandang, dalam penyelesaian konflik kemanusiaan tersebut, haruslah ditarik akar yang lebih mendalam ketimbang berhenti pada wilayah agama, yakni pada sisi-sisi humanistik. Jika telah sampai pada tataran kemanusiaan, maka hak untuk berdemokrasi, penegakan keadilan dan pembanguanan multi-sektoral haruslah terlaksana antara kedua belah pihak.

Gus Dur tetap optimis, bahwa tradisi dialog guna menghadirkan rebuildisasi hubungan filantropis kedua belah pihak adalah perlu dilanggengkan. Kendati sulit, terlebih dengan realitas kesejarahan, dialog penyelesaian melulu berada dalam ruang kosong bagi Palestina, dan hanya berpihak pada Israel. Ide Gus Dur hanyalah salah satu opsi strategis guna menyelesaikan hal tersebut.

author
No Response

Leave a reply "Zionisme, Pluralisme, Darsoisme, Menukik Pemikiran Gusdur pada Konflik Timur Tengah"