• Selasa, 18 Januari 2022

Artificial Lake As A Disaster Solution, Sanghyang Talaga Rena Mahawijaya

- Selasa, 28 Desember 2021 | 22:47 WIB
Peta Telaga (Jurnal Patnanjala)
Peta Telaga (Jurnal Patnanjala)

Bandung, MNS-Sundalandia, Do Grotoo Of Sundalandia, Sundaland atau Sunda sebagai ajaran yang paling tua di dunia kaya akan folklore dan bermanifestasi menjadi pedoman hidup yang efektif, salah satunya adalah fenomena Sanghyang Talaga Rena Mahawijaya yang dikutip dari (Jurnal Patnanjala, 2013) dan dicetak oleh CV. Izda Prima.

Talaga Rena Mahawijaya dan Bukit Badigul yang dibangun oleh Sri Baduga Maharaja pada abad ke-16, merupakan danau buatan yang diperuntukan sebagai upacara Srada. Bila ditinjau dalam perspektif berbeda justru danau ini memiliki banyak manfaat yang begitu besar.

Talaga Rena Mahawijaya mempunyai fungsi utama sebagai area tangkapan air, yang kita kenal sebagai waduk atau embung, yakni sebagai area utama dalam fungsi tangkapan air.

Baca Juga: Kehilangan Dana 97 Triliun, Jokowi Bangun Rumah Sakit Skala Internasional di Bali

Singkatnya Sri Baduga Maharaja membuat Talaga Rena Mahawijaya untuk fungsi water catchment, water treathment dan water suply.

Banyak peristiwa-peristiwa masa lampau yang memiliki cara menanggulangi banjir, misalnya isi prasasti tugu Tarumanegara sekitar abad ke-6 M kisah tentang Purnawarman yang membuat Candrabagha, yaitu sebuah saluran yang menuju ke laut sebagai peralihan Banjir.

lalu sasakala yang dibuat Surawisesa sebagai penghormatan 12 tahun meninggal ayahnya Sri Baduga Maharaja yang dibuat sekitar 1521 M:

"Semoga selamat. Inilah tanda peringatan untuk Prebu Ratu yang telah mangkat. Dinobatkan beliau dengan nama Prebu Guru Dewaprana. Dinobatkan lagi beliau sebagai Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Padjajaran. Sri Sang Ratu Dewata. Beliaulah yang membuat pertahanan pakuan. Beliaulah yang mebuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, memperkeras jalan, yang membuat Samida, membuat Sang Hyang Talaga Rena Mahawijaya." Tahun saka panca pandawa ngemban bhumi (1455).

Dikisahkan pula di dalam naskah Carita Parahyangan dari abad ke-16. Darsa (2011: 91) sebagai berikut:

Halaman:

Editor: Faisal Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sejarah Prahara Kerajaan Pajajaran

Jumat, 7 Januari 2022 | 16:27 WIB

Pejalanan Sunan Gunung Jati dengan Putri Ong Tien

Jumat, 7 Januari 2022 | 00:07 WIB

Sejarah Pangeran Soka Atau Syekh Magelung Sakti

Rabu, 5 Januari 2022 | 18:49 WIB

Jongos yang Malu Bertani

Senin, 3 Januari 2022 | 16:00 WIB

7 Fakta Suku Baduy, Interpretasi Ilmu Antropologi

Senin, 27 Desember 2021 | 19:50 WIB

Festival Longser Toneel Bandung 2021

Senin, 8 November 2021 | 03:31 WIB
X