Kucing-kucing Disparbud Jabar Harus Disapu, Seniman Perjuangkan Hak Lewat C-19

Gambar: Adi Truna, Faisal, Rekan-rekan dan Jurnalis Senior

Oleh: Faisal Nugraha

Bandung, MNS-Covid 19 mewabah sudah 2 tahun, hal ini lah yang membuat para seniman mendapatkan pencerahan baru melalui kontemplasi. Petisi C-19 Akar Seni Jabar berharap gubernur menemuinya lewat kanal Zoom Meet, (25/07/2021).

Baca Juga: Disbudpar Bandung Dinilai Teledor Lagi, Sosok Edih Taryana Lenyap dari Sejarah

Adi Truna salah satu penggagas menuturkan “selama dua tahun pendemi komunikasi dengan kekeluargaan tetap jalan,” cetusnya. Lebih akrabnya ia menyabit namanya dengan “pasisian”. Merekalah seniman yang jarang tersentuh ranah birokrasi pemerintahan.

Petisi C-19 Akar Seni Jabar

Mulanya semua seniman Jabar berkonstelasi karena memiliki kesamaan dalam benaknya, seperti yang dipaparkan sosilog Jerman (Ferdinan Tonies, 1855). Masyarakat adalah daya cipta manusia itu sendiri yang bersifat satu suara. “Rasa jadi wujud satuan yang utuh. Walau yang radang hanya telinga pasti yang sakit satu badan.” Papar Adi dalam istilah agama.

Dari saling kontak sosial media lalu diakumulasi sekitar 27 kabupaten/kota hingga lahirlah petisi C-19, dengan landasan bahwa seniman memiliki keresahan yang sama, tercetuslah nama petisi C-19 secara spontan dengan meminjam kodevikasi istilah zaman sekarang.

Akar Seni Jabar adalah sebuah penamaan yang spontanitas, “kita hendak menyuarakan kebersamaan,” kata Adi. Tanpa legalitas, dalam artian tanpa persiapan matang dari jauh-jauh hari.

Lanjutnya selalu ada pertanyaan sentimen bahwa Akar Seni Jabar mewakili siapa? “coba gaul dengan kami!” seru Adi. Semua saling mengenal satu sama lain, yang tidak mengenal mungkin bisa jadi tidak bergaul.

Disparbud Dinilai Kebakaran Jenggot

“Fakta hari ini seniman ada yang berjualan online, buka bengkel, hingga memasang nomor togel.” Itulah penyebab kekesalan seniman pada tatanan birokrasi ranah kebudayaan. Disparbud Jabar seolah kebakaran jenggot.

Sekitar 3 hari lalu Disparbud menggelontorkan bansos dan menginterversir Disbudpar-disbudpar kabupaten/kota menyalurkan bansos, guna intruksi Kemendagri. Mengapa Disparbud baru hari ini butuh data? Itupun dalam posisi ter-ancam oleh sanksi.

“Saya dapat kabar dari rekan Nani Topeng Losari yang bertahun-tahun mengharumkan nama daerah, tapi tak sedikitpun andil perhatian dari pemerintah.” Imbuh Adi.

Afiliasi Adi dengan Ridwan Kamil hanya urusan silaturahmi sebagai orang yang saling mengenali, contoh ketika taman Dinosaurus di-launching, besoknya menuai kontoversi, dan besoknya lagi dilantahkan. Artinya para 'pembisik-pembisik' kang Emil tak mengedukasi pemimpin mengenai nilai entitas budaya.

Sapu 'Kucing-kucing' Disparbud

Kontradiktif orang sunda tak hanya dengan birokrat saja, hal ini masih cenderung terjadi antara orang sunda dan sundanya lagi, “jadi mohon sampaikan pada Emil, maaf saya memilih berdiri dengan saudara saya di dua puluh tujuh kabupaten kota!” Imbuhnya sambil tersedu.

Kendati demikian ia menambahkan “masih untung seniman saat ini tidak jadi pencuri,” katanya. Namun setelah aspirasi tersampaikan rencananya akan ada aksi turun ke jalan, tetapi selama ada cara yang lebih efektif Akar Seni akan tempuh jalan efektif, hal ini sama seperti cara leluhur/pendahulunya.

“Tak pantas rasanya bila saya sambit nama-nama orang yang menjadi 'kucing' dalam ranah ini, tau persis saya siapa yang bermain, ini menyangkut moralistik yang harus dibenahi.” Imbuhnya.

Kabarnya saat isu sedang hangat gubernur akan memberikan bantuan secara simbolik pada Tisna Sanjaya, nama tersebut tak ada sangkut pautnya dengan petisi C-19. Petisi C-19 adalah orang yang tak terlalu dikenal namun kiprahnya faktual.

“Seniman akan terus bernasib seperti ini selama birokrat tidak menggunakan sapu djagat, tolong sapu kotoran-kotoran di lingkaran oligarki dan birokrasi. Seusai petisi akan kami paparkan secara jurnalistik pada awak media guna mengusir “kucing-kucing”, Disbudpar.

Seniman sudah muak dengan hal ini yang berangsur-angsur, letih dengan sikap birokrat yang rasanya selalu menyuruh tanda tangan “kosong”. UU Pemajuan Kebudayaan No. 5 Tahun 2017 seolah hanya patung yang dirongrong kucing.

No Response

Leave a reply "Kucing-kucing Disparbud Jabar Harus Disapu, Seniman Perjuangkan Hak Lewat C-19"