Disbudpar Bandung Dinilai Teledor Lagi, Sosok Edih Taryana Lenyap dari Sejarah

banner 160x600
banner 468x60

Oleh: Faisal Nugraha

Orang memanggilnya Om Edih, di zaman mutakhir ini seniman akademis mengenalnya sebagai informan terbaik dalam penyajian tugas akhir mahasiswa seni, Edih dari umur jagung tinggal di gubahan kecil kota Parakan Saat Bandung.

(06/04/2021).

Menitih kiprahnya sejak awal 1983 hingga pada masanya ditemani lingkung seni Munggul Pawenang. 56 tahun tinggal di Parakan Saat Bandung, mulai dari menabuh musik gamelan hingga membuat Wayang Golek, Edih mengatakan “kesenian Sunda sarat akan filosofi,” hal itulah salah satu faktor ia mempertahankan kesenian Sunda.

Sekitar tahun 1992 Edih banyak meraih penghargaan mewakili Kota Madya, bahkan ia mewakili nama Indonesia pada festival Seni Tradisi tahun 1994 di Australia. pada tahun 2007 Edih mendapatkan penghargaan dari Unesco sebagai pelatih iringan Gamelan.

Mirisnya puluhan tahun melestarikan Wayang Golek di kota Bandung, Edih tidak mendapatkan apresiasi sedikitpun dari Pemprov, Pemkot, Disbudpar Bandung, BPNB Jabar dan Komisi D DPRD kota Bandung. Bahkan bantuan UMKM yang masih hangat diperbincangkan, Edih tidak mendapatkannya, kendati demikian Edih sendiri tidak mempersalahkan hal tersebut, namun Edih berharap pemerintah harus lebih jeli lagi dalam upaya ini.

Disbudpar kota Bandung dan BPNB Jabar dinilai telah lalai, karenanya dalam Undang-undang 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan pasal 44g, bahwasannya pemerintah melalui otonomi daerah menyediakan sumber pendanaan untuk pemajuan kebudayaan.

Pasal 51 selain penghargaan sebagaimana dimaksud pasal (50), untuk memperkaya Kebudayaan Nasional Indonesia, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memberikan fasilitas pada sumber daya manusia yang berjasa dan atau yang berprestasi luar biasa dalam pelestarian budaya. Dan masih banyak lagi hal lain yang dinilai kontradiktif antara Disbudpar dan bunyi UU Pemajuan Kebudayaan.

Sejarah hanya dibuat oleh orang yang menang dalam berperang dan ditulis melalui tinta keemasannya, banyak manusia bersejarah yang musnah dari peradaban hanya karena tak tertulis. Menulis adalah kerja untuk keabadian.

Email Autoresponder indonesia
author
2 Responses
  1. author

    Yopi Muchammad Alamsyah2 minggu ago

    Terbaikks, bawa kepermukaan kawans

    Reply
    • author
      Author

      nuansasi2 minggu ago

      terima kasih kembali

      Reply

Leave a reply "Disbudpar Bandung Dinilai Teledor Lagi, Sosok Edih Taryana Lenyap dari Sejarah"