Pelacur di Tanah Subur

No comment 30 views

Bandung, https://www.nuansasinar.com/-Inka, adalah diksi yang orang pilih untuk memanggilku. Sedari kecil aku tak pernah bercita-cita bekerja jadi pelacur, akibat peliknya lapangan kerja di tanah yang subur ini, kuterpaksa jual diriku dengan murah.

(18/07/2021).

Kala usiaku seumur jagung, aku menjual gorengan dan kopi di kampung halamanku Sumedang. Sesekali aku melayani makan tukang becak, angkot, dan kuli bangunan di jalan raya. Ayahku gundah mengurusiku, akhirnya aku dikirim ayah ke Bandung bersama sanak saudara.

Baca Juga: https://www.caknun.com/

Di kota Kembang aku tinggal bersama tanteku bernama Marsusi, oleh Marsusi aku diperkenalkan perhelatan mesin jahit, aku kerja di salah satu pabrik tekstil di Kiaracondong.

Tak lama di situ aku bersabung kasih dan menutup masa lajang bersama pria kelahiran Sumedang bernama David. David harus menggerami kaki lumpuhnya akibat menyetir sepeda motor di ruas jalan Anyer-Panarukan, Ia tak bekerja bertahun-tahun. Pelacuran akhirnya kupilih sebagai jalan hidup.

Uang dari hasil menyusuri birahi pria hidung belang tak pernah kurasa nikmatnya, kubayar cicilan rumah dari tahun ke tahun. Mereka tak pernah mawas diri kalau uang pelacuranku hanya cukup untuk menopang perut saja.

Bertahun-tahun sanak saudaraku tak ada yang tau kalau aku minitih kiprahku di aplikasi google playstore bernama Mi Chat, letih rasanya kubohongi terus-menerus diri ini pada dunia. Orang bilang dunia kejam atau saja hanya diriku yang lemah.

Orang bisa menghakimiku sebagai manusia kotor, tanpa mereka sadari bila aku tak bekerja sebagai perhelatan pemuas nafsu pria, bisa kabur pandangan supir truk pengirim barang akibat kehilangan fokus.

Guru ngajiku selalu berkata: “negriku adalah negri yang subur,” bagaimana bisa kujual diriku hari ini 300 ribu, besok-besok mungkin akan turun jadi 200 ribu untuk short time, setelah usiaku senja mungkin bisa jadi hanya 30 ribu.

Tanah Subur

Suatu saat nanti kupersiapkan diriku untuk lepas dari ini semua, karena menjadi pelacur sama sekali bukan cita-citaku sedari kecil. Sengkarut rasanya kutengok dosaku pada tuhan, negri ini subur tapi lapangan kerja pelik, apakah aku berdosa atau negara demokrasi ini yang berdosa.

Hari demi hari aparat bergerombol mencabik-cabik kamar tidurku, kendati upeti pajak pada negara tak pernah luput kubayar tiap harinya, mereka cakar dengan ganas langit-langit rumahku, mereka caci aku dengan celotehan wibawanya, hingga aku merasa diriku manusia paling rendah di muka bumi. Lantas bagaimana bisa kutenggerkan bendera pusaka negaraku di depan rumah sambil berkata “merdeka”!

No Response

Leave a reply "Pelacur di Tanah Subur"